Keinginan yang Melemah? | Pernah Mengalaminya?

Keinginan yang Melemah? | Pernah Mengalaminya?

Pernah mengalami keinginan yang melemah ? Pernahkah Anda punya mimpi? Pasti pernah. Punya harapan dan keinginan? Sudah tentu punya. Pertanyaannya, sudahkah mimpi anda tercapai? Bagaimana proses Anda dalam menggapai mimpi itu?

Setiap orang pasti punya keinginan dan mimpi. Nah, mimpi tersebut tentu diraih dengan berbagai macam jalan hingga menghasilkan banyak cerita. Mungkin, dalam hal ini penulis hanya mengutarakan progress penulis terkait kendala suatu perjuangan.

Artikel ini saya namai dengan “progress keinginan yang melemah”. Mengapa? Karena hal ini terjadi pada diri saya ketika mempunyai sebuah keinginan namun selalu tergerus hingga membuatnya melemah. Lho? Mengapa bisa terjadi ? Begini ceritanya.

Awal Mula Sebuah Keinginan

awal mula sebuah keinginan

Ketika saya kecil, duduk di bangku TK , saya sering ditanya “apa cita-cita kamu?”. Saya jawab dengan lantang kepada Guru tersebut, saya ingin jadi Polisi. Setelahnya kemudian saya tertawa bangga, mengingat sekilas bayangan bagaimana saya menjadi Polisi nanti.

Alhamdulillah ketika kecil dulu, saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk dapat merasakan berperan seperti cita-cita yang saya inginkan (walupun hanya sekedar kostum). Pakaian polisi beserta atribut lainnya saya kenakan dengan gagahnya. Hal inilah yang membuat ketika kecil dulu saya ingin menjadi polisi. Teringat, keinginan tersebut bertahan terus hingga saya duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Progress Keinginan yang Melemah Pertama

Keinginan Yang Melemah

Seiring berjalannya waktu, keinginan itu menjadi luntur. Saya merasa “minder” karena mempunyai tubuh yang kecil dan kerempeng. Kebetulan, saya juga tidak pandai dalam kegiatan olahraga. Saya hanya bisa senam (bahkan hingga gabung ke BAPOPSI apa ya namanya kalau tidak salah). Keterampilan yang lainnya yang mungkin bisa saya andalkan dalam olahraga mungkin hanya permainan bola voli.

Dan apa kendala yang sering saya dengar? Kalau mau jadi polisi itu mesti tubuh tinggi, JAGO RENANG. Waduh, sedangkan saya? Nyebur di kolam berenang juga jarang. Hal ini karena sudah beberapa kejadian, jika saya berenang pasti beresnya sakit (mungkin karena belum terbiasa main di kolam :-D).

Selain karena hal di atas, hal yang paling utama adalah saya tidak bisa berenang. Sempat saya tes berenang, saya hanya jago dalam hal tahan nafas dalam air :-D. Karena ingat saya dulu di tes siapa yang paling lama nelem dalam air paling lama, dia dapat nilai paling tinggi. Dan saya bisa mengatasi tes itu.

Kalau masalah tes geraknya, waduh… ya ngambang, maju sedikit jalan kaki dah sampai batasnya. Maka dari itulah nilai renang saya selalu kecil. Hal inilah yang saya membuat saya tidak lagi berkeinginan kuat untuk menjadi seorang polisi.

Muncul Keinginan Baru

Muncul Keinginan Baru

Ketika duduk di bangku sekolah SD, saya bertemu dengan beberapa Guru. Saya teringat kepada Ayah saya bahwa beliau pernah menjadi guru MI. Saya berfikir, betapa hebatnya mereka. Pintar, selalu sabar dan baik hati kepada murid-muridnya. Dedikasinya mampu membuat dan mencetak banyak orang menjadi sukses.

Kagum setelah melihat dan berbicara dengan berbagai macam guru, SD kurang lebih kelas 6, saya mulai punya keinginan menjadi guru. Saya ingin menjadi seperti mereka, mencetak anak-anak muridnya menjadi sukses. Saya juga berfikir mungkin bakat saya di bidang pelajaran lainnya bukan di profesi yang mengandalkan kemampuan fisik yang hebat.

Hal ini juga dapat dibuktikan dengan seringnya saya terpilih menjadi perwakilan tingkat SD dalam cerdas cermat. Saya juga sering mendapatkan peringkat bagus di kelas. Maka dari itulah saya tentukan ingin menjadi seorang guru.


Baca Juga : Bekal Kehidupan, Pembiasaan yang Sangat Bermanfaat


Progress Keinginan yang Melemah Kedua

Progress Penurunan Keinginan Kedua

Seiring berjalannya waktu, saya meneruskan sekolah di Tasikmalaya. Dan di tahun pertama SMP saya kehilangan seorang sosok Ayah. Beliau tutup usia beberapa hari setelah menikahkan kakak perempuan saya. Dari sana saya berfikir, saya harus bisa segera kerja. Agar nantinya tidak merepotkan orang tua saya.

Keinginan untuk menjadi seorang guru menjadi melemah. Yang saya fokuskan adalah saya ingin segera dapat kerja. Oleh karena itulah saya meneruskan sekolah di SMK. Berhasil lolos di SMK yang cukup hebat, saya meneruskan sekolah di bagian TKJ.

Saya berharap sekolah di SMK, saya bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat setelah lulus nanti. Menjalani fase remaja, saya mendapatkan beberapa masalah. Akademik saya jadi kurang bagus. Tak sebaik di SMP dan SD. Walaupun untuk masalah materi kejuruan, saya dapat dibilang cukup baik. Hal itulah yang membuat saya mengalami progress penurunan keinginan lagi.

Apa Masalahnya?

Keinginan yang melemah

Peran seorang pengarah itu penting sekali. Setelah saya renungkan dari kejadian beberapa keinginan yang melemah, hal ini dikarenakan saya tidak melibatkan seorang guru kehidupan. Lho maksudnya?

Penting sekali mengarahkan seorang anak yang sedang mencari jati dirinya. Inilah yang saya rasakan. Meskipun saya belum menikah dan mempunyai seorang anak, sehingga belum mempunyai ilmu lebih mengenai mengurus anak. Namun itulah yang saya rasakan.

Harus ada seorang guru kehidupan yang mengarahkan kita agar kita dapat menempuh jalan yang baik. Saran dari saya, guru kehidupan pertama adalah orang tua. Maka dari itu, selalu berikan perhatian kepada anak-anak Anda yang sedang dalam fase mencari jati diri. Perhatian dengan memperhatikan setiap jalan yang akan diambil anak. Bimbing mereka hingga mereka dapat menemukan jalan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Tambahan guru lainnya, temukan jati diri Anda dengan berkonsultasi ke ahlinya. Itulah yang sempat saya sesalkan.

Bagi Anda yang masih sekolah, di Sekolah kita punya orang tua kedua. Apa? Guru. Ya betul sekali. Setiap kelas pasti ada yang namanya wali kelas. Anda dapat bercerita ke sana, untuk mencari sedikit pencerahan dan pengarahan bagaimana kedepannya.

Bahkan, sekarang ini telah ada yang namanya BK di sekolah. Guru BK atau bimbingan konseling ini dapat Anda gunakan untuk mencari jati diri dan perkembangan diri Anda. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.


Merenung Sejenak

hati yang selalu tenang

Peran melibatkan guru kehidupan itu penting.

Kasus yang telah saya alami, jika di renungkan. Padahal keterampilan berenang dan kekuatan fisik itu bisa dibentuk. Yang perlu dilakukan adalah latihan keras dan fokus menjalaninya. Hanya saja tidak ada dorongan dan arahan hingga saya tidak melakukan itu.

Kemudian, untuk menjadi guru, jika saja saya konsultasi dengan guru kehidupan terkait keinginan ini. Mungkin saya dapat diarahkan dengan baik. Mendapatkan dorongan dan motivasi agar tetap konsisten untuk terus mengejar itu.


Itulah pengalaman penulis yang dapat saya berikan. Semoga dapat menjadi ilmu atau pelajaran bagi kita semua. Semoga bermanfaat. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Terima kasih telah berkunjung. Punya saran atau inspirasi lainnya? Yuk kita berdiskusi. Cantumkan di kolom komentar yaaa. Salam hangat Batas Ketik.

Leave a Comment