Bekal Kehidupan, Pembiasaan yang Sangat Bermanfaat

Bekal Kehidupan, Pembiasaan yang Sangat Bermanfaat

Artikel kali ini penulis batas ketik ingin berbagi cerita dengan para pengunjung tentang bekal kehidupan. Hal ini mengenai pelajaran hidup penulis hingga sekarang ini. Artikel ini penulis buat agar kita dapat sharing atau berdiskusi terkait pengalaman hidup dan mudah-mudahan hal ini menjadi tambahan ilmu bagi setiap orang untuk dijadikan bekal kehidupan.

Bekal Kehidupan 1: Pembiasaan Hidup Sederhana dan Hemat

manfaat hidup hemat

Saya lahir di keluarga sederhana, dengan pekerjaan ayah yang merupakan seorang pensiunan (PNS) dari guru madrasah (yang saat itu orang tidak berminat menjadi PNS karena gajihnya terbilang “pas-pasan). 5 orang anak, dengan 3 orang putra dan 2 putri mungkin membuat orang tua saya tentu harus benar-benar bisa mengatur pendapatan yang pas pasan itu.

Ketika kecil, saya terkadang suka bersedih hati. Saya tidak bisa seperti orang lain (tidak pandai bersyukur mungkin). Yang saya keluhkan dulu “orang lain begitu mudahnya bisa jalan-jalan”. Orang lain bisa begitu mudahnya makan bersama dengan keluarganya di tempat-tempat yang “saya inginkan”. Begitu mudahnya anak-anak seusia saya meminta ingin dibelikan mainan ini itu setiap hari.

Pernah suatu masa saya menangis karena ingin dibelikan sebuah mainan “satria baja hitam”. Mungkin ini pertama kalinya saya menginginkan sebuah mainan yang pada waktu itu satria baja hitam sedang hot hot nya di serial TV. Harganya mungkin sekitar 3 sampai 5 ribu kalau tidak salah. Walaupun sempat tidak setuju, Ibu saya yang mendampingi saya belajar dengan sabar akhirnya membelikannya.

Namun ketika sampai di rumah, duaarrrrr. Orang tua saya marah betul. Hal ini karena saya benar-benar manja karena membeli mainan. Padahal waktu itu kalau tidak salah saya belum pernah memiliki mainan yang seperti itu.

Dulu saya hanya punya beberapa biji kelereng, dan beberapa gepok gambar (lupa lagi namanya, dulu sering adu tos gambar. siapa yang kalah harus bayar dengan sebuah kartu gambar lagi). Dari sanalah saya tidak pernah meminta ingin dibelikan lagi sebuah mainan yang macam-macam. Ibu saya berpesan “Jangan suka menghamburkan uang, kita ini harus bisa hidup sederhana).


Baca Juga : Sudah Tahu? Inilah Manfaat Hidup Hemat dan Sederhana


Bekal Kehidupan 2: Pembiasaaan untuk Mengatur Biaya Hidup

Buat daftar perioritas untuk setiap kebutuhan dan pengeluaran Anda
sumber gambar : mommiesdaily.com

Kebanyakan, anak seusia saya dulu ketika SD sering ditemani ketika sekolah. Anak-anak dengan mudahnya sering meminta jajan kepada orang tuanya. Ada yang bahkan setiap hari jika saya hitung bisa jajan sampai 5 ribu rupiah.

1. Sekolah Dasar dan Agama

Sedangkan saya, setiap hari saja bekal di batasi. Teringat bekal saya itu hanyalah seribu rupiah perhari. Orang tua saya selalu memberikannya setiap pagi hari. 500 untuk bekal sekolah SD, dan 500 lagi untuk bekal Sekolah Agama.

Saya di tuntut untuk mengatur “jajan” saya selama satu hari (karena saya tidak boleh meminta lagi uang tambahan jika uang tersebut habis).

Satu-satunya solusi yang saya lakukan adalah jika saya di SD, saya jarang main di wilayah sekitar kantin. Jika jam istirahat sebentar lagi usai, baru saya jajan agar nantinya tidak jajan lagi.

Kemudian, untuk nanti Sekolah Agama, agar makanan saya awet, saya sering membeli mie instan yang waktu itu ada mie instan yang hanya 500 rupiah (takut disebut endorse kalau disebutkan merk nya :-D). Mie instant itu saya buat menjadi mie gemas. Saya remas, berikan bumbu. Makan kering-kering tanpa di masak terlebih dahulu.

2. Sekolah Menengah Pertama, Atas dan Perguruan Tinggi

Ketika saya menginjak sekolah di bangku SMP, saya diberikan bekal perminggu. Saya lupa lagi nominalnya, kalau tidak salah 50 ribu. Itu harus cukup untuk biaya transportasi saya yang waktu itu menggunakan kendaraan umum (angkot) ke sekolah.

Jumlah itupun harus cukup pula jika ada uang kas (bahkan terkadang untuk beli LKS (lembar kerja siswa) di sekolah) yang waktu itu memang dijual di sekolah).

Ketika saya menginjak sekolah di bangku SMK, saya diberikan bekal perbulan. Sebulan saya diberikan bekal 300 ribu. Itu harus cukup untuk transportasi, uang kas, dan terkadang LKS + biaya renang. Untuk dapat ke sekolah saya harus naik angkot 2 kali. Jadi untuk pulang pergi saya harus naik angkot 4 kali.

Ketika saya menginjak sekolah di perguruan tinggi, saya diberikan bekal perbulan. Sebulan saya diberikan bekal 400 ribu. Teknisnya sama seperti saya duduk di bangku SMK. Saya harus mengatur pengeluaran saya agar memenuhi kebutuhan.

Belum lagi dengan jadwal yang memang tak karuan. Kadang pagi di sambung sore. Yang dimana di sela waktu menunggu tersebut saya harus mengeluarkan uang untuk makan siang. Kalau untuk air minum saya sering ambil sendiri, namun untuk makan saya jarang masak di rumah (mungkin itu kebiasaan buruk saya :-D).

Apa yang saya dapatkan?

Menjadi Lebih Percaya Diri

Adanya pembiasaan tersebut membuat saya selalu belajar mengontrol keuangan diri. Bekal kehidupan untuk membiasakan hidup sederhana. Walaupun terkadang beberapa kesempatan jika harga buku yang saya beli memang biayanya besar saya minta bekal lagi. Orang tua saya masih sabar memberikan uang tambahan.

Dari pembiasaan tersebut, setelah saya bekerja hal ini sungguh sangat terasa manfaatnya. Ketika sudah kerja, saya harus mengatur keuangan yang ada untuk cukup selama sebulan penuh. Belum lagi harus menabung agar ada cadangan biaya untuk masa depan dan keperluan mendadak.

Dari pembiasaan tersebut pula, saya dilatih agar dapat memanajemen diri. Mengatur pola hidup dan selalu berfikir bagaimana agar saya dapat menghadapi suatu permasalahan dalam diri.

Alhamdulillah, saya bersyukur sekali. Didikan orang tua yang diberikan sangatlah bermanfaat. Mungkin ketika dulu saya sering berkeluh kesah, tapi sekarang saya rasakan manfaatnya.

Penutup

Jalan orang berbeda-beda. Mungkin ada diantara pembaca yang justru mengalami kondisi keuangan yang kurang beruntung lebih dari seperti saya. Hal ini saya ucapkan puji dan syukur karena saya masih diberikan kecukupan.

Tapi hal yang dapat saya renungkan, Allah selalu memberikan jalan. Bagaimanapun bentuknya, tanpa kita sadari bila kita renungkan hal tersebut pasti membuat Anda berkata “kok bisa ya saya bisa sampai seperti ini, padahal …. bla .. .. . bla . . . “.

Semoga cerita tersebut dapat menjadi inspirasi bagi Anda yang memang memiliki seorang anak, dan memerlukan sebuah metode untuk dapat melatih anak agar dapat hidup mengatur diri. Sebagai bekal kehidupan anak dalam melatih dirinya menjadi manusia seutuhnya.

Jika Anda pernah mengalami hal seperti ini dan mendapatkan manfaat lainnya, yuk kita berdiskusi. Mari kita belajar mengambil ilmu kehidupan untuk masa depan yang lebih baik.

Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.

 

Leave a Comment